Dunia adalah perhiasan. Dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita salihah. Wanita dalam beragam
kebudayaan dan persepsi sebelum Islam ibarat sayap yang patah, tidak memiliki kehormatan, hak-haknya
dirampas, dan dianggap sebagai barang murahan jika sudah tidak layak jual. Astaghfirullah.
Islam datang, salah satunya, membawa misi memuliakan kaum wanita, mengembalikan kehormatan,
kedudukan, dan kemanusiaannya. Selain itu, wanita adalah sebagai mitra bagi kaum pria dalam membangun
peradaban dunia.
Di antara bentuk-bentuk pemuliaan Islam terhadap wanita itu adalah, pertama, persamaan yang sempurna
dalam hal pembentukan, kesatuan makhluk, pengadaan, asal, dan tempat tumbuh bersama kaum pria. (QS An-
Nisa’ [4]: 1).
Kedua, wanita menyamai pria dalam taklif syariat, dan penerapan keimanan, kecuali dalam hal-hal yang
khusus bagi wanita mengingat karakter dan penciptaannya. (QS An-Nisa’ [4]: 124).
Ketiga, investasi pahala dalam mengurus wanita. Rasulullah SAW pernah bersabda, “Barangsiapa mengurus
dua anak gadis sehingga keduanya berakal, maka aku dan ia akan masuk surga seperti dua jari ini.” (Shahih
Jami’).
Keempat, wanita memiliki hak sebagaimana suami memiliki hak atasnya. (QS Al-Baqarah [2]: 228). Kelima,
haram menuduh wanita Muslimah melakukan perzinaan. (QS An-Nur [24]: 4).
Keenam, kebebasan wanita memilih calon suami apabila sekufu (sebanding) dengannya. (HR Bukhari). Ketujuh,
mahar itu adalah hak wanita. (QS An-Nisa’ [4]: 4). Kedelapan, seruan mengajarkan kepada wanita hal-hal
yang bermanfaat baginya. (HR Bukhari).
Kesembilan, wanita berhak untuk berkarya. (QS An-Nisa’ [4]: 32). Kesepuluh, perintah untuk berhijab dan
menutup aurat. Islam memuliakan kaum wanita, dan mewajibkan atasnya hijab guna menjaganya dari
keburukan dan penglihatan manusia, serta memelihara masyarakat dari auratnya.
Dalam riwayat Aisyah RA, bahwasannya Asma binti Abu Bakar masuk menjumpai Rasulullah SAW dengan
pakaian tipis, lantas Rasulullah berpaling darinya dan berkata, “Hai Asma, sesungguhnya jika seorang wanita
sudah mencapai usia haidh (akil baligh) maka tak ada yang layak terlihat kecuali ini, sambil beliau menunjuk
wajah dan telapak tangan.” (HR Abu Dawud dan Baihaki).
Semoga Allah membimbing kita, para istri dan anak putri kita, tumbuh berkembang menjadi wanita-wanita
yang salihah..... Aamiin.
Saturday, December 14, 2013
MEMULIAKAN WANITA
Friday, December 13, 2013
MANAJEMEN PENGNDALIAN DIRI
Pada suatu hari Khalid bin al-Walid, Bilal bin Rabah, Abu Dzarr al-Ghifari, dan Abdurrahman bin 'Auf
berdiskusi mengenai strategi perang.
Diskusi yang tidak dihadiri Nabi Muhammad SAW ini meruncing, karena masing-masing tidak dapat
mengendalikan diri, saling emosi dan ngotot mempertahankan pendapatnya. Usulan Abu Dzarr dinilai salah
oleh Bilal.
Abu Dzarr tidak terima dan menyatakan: " Hai Negro, engkau telah berani menyalahkan pendapatku! ". Bilal pun
marah dan bersumpah akan mengadukan penghinaan Abu Dzarr itu kepada Nabi SAW.
Bilal kemudian meninggalkan tempat menuju rumah Nabi SAW. “Wahai Rasulullah, aku baru saja menerima
perlakuan diskrimitif dari Abu Dzarr. Aku dibilang negro, ” tutur Bilal kepada Nabi SAW. Seketika wajah Nabi
SAW tampak memerah mendengar pengaduan itu.
Berita pengaduan ini pun akhirnya sampai kepada Abu Dzarr, sehingga ia bergegas menemui Nabi SAW di
masjid Nabawi. " Wahai Abu Dzarr, engkau telah melakukan diskriminasi dengan menghina ibunya (Bilal).
Sungguh dalam dirimu masih tertanam sifat jahiliyah, " kata Nabi kepadanya.
Mendengar nasehat Nabi SAW tersebut Abu Dzarr menangis, dan memohon kepada Nabi SAW agar memintakan
ampun kepada Allah SWT. Ia menyesali tindakan diskriminatifnya. Ia berjanji di hadapan Nabi SAW untuk tidak
mengulanginya, dan segera memohon maaf kepada Bilal.
Setelah itu, Abu Dzarr keluar dari masjid menemui Bilal sambil merangkak menempelkan pipinya di tanah.
" Wahai Bilal, aku tidak akan mengangkat pipiku sebelum aku mencium kakimu. Engkau sungguh mulia, akulah
orang yang terhina, " seru Abu Dzarr sambil sesunggukan.
Melihat sikap penyesalan Abu Dzarr, Bilal pun menitikkan air mata, lalu mengulurkan tangannya kepada tangan
Abu Dzarr agar berdiri. Keduanya kemudian berpelukan dan saling menangis: menyesali apa yang telah terjadi.
Kisah tersebut sarat dengan pesan moral mengenai pentingnya manajemen pengendalian diri, terutama
berinteraksi dengan sesama dan dalam situasi penuh perbedaan pendapat.
Sebab, jika tidak dikelola dan dikendalikan dengan baik, seseorang akan mudah marah. Marah yang berlebihan
dapat menyebabkan kehilangan akal sehat dan cenderung bertindak bodoh: menghina, diskriminasi, caci maki,
anarki, dan sebagainya.
Karena itu, ketika ada seseorang menemui dan meminta wasiatnya, Nabi SAW menyatakan: " Janganlah engkau
marah ". Orang itu mengulangi lagi permintaannya sampai beberapa kali, Nabi SAW tetap menjawab sama:
" Jangan marah! " (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Ketidakmampuan mengendalikan diri berupa kemarahan itu ibarat bara api yang menyala dalam hati. Jika tidak
dipadamkan, maka bara itu akan membakar dan menjerumuskan orang yang marah itu dalam kenistaan dan
kehinaan.
Manajemen pengendalian diri dapat diaktualisasikan dengan beberapa tuntutan Nabi SAW berikut. Pertama,
ketika mulai emosi dalam menghadapi suatu masalah atau kondisi, ucapkanlah a'udzu billahi minasy
syaithanir rajim (Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk) .
Kedua, sabda Nabi SAW: " Apabila salah seorang di antara kamu marah, segeralah berwudhu karena marah itu
ibarat api ." (HR Abu Daud). " Marah itu karena setan, sedangkan setan itu diciptakan dari api. Api hanya bisa
dipadamkan dengan air. Karena itu, jika engkau marah, berwudhulah." (HR Abu Daud).
Ketiga, menurut riwayat Abu Hurairah, jika Nabi SAW marah dalam posisi berdiri, beliau lalu duduk. Ketika
marah dalam posisi duduk, beliau kemudian berbaring, maka hilanglah marahnya. " (HR. Ahmad dan at-
Turmudzi).
Keempat, seperti dilakukan oleh Abu Dzarr, segerahlah beristighfar kepada Allah dan memohon maaf kepada
yang dimarahi atau dihina, agar bara emosi itu padam, dan pengendalian diri menjadi lebih stabil, tenang, dan
menjadi pribadi yang menyenangkan.
Kelima, pembiasaan puasa sunnah untuk lebih dapat mengendalikan diri, menstabilkan emosi, dan meredam
gejolak nafsu amarah yang berlebihan. Karena puasa merupakan salah satu solusi pengendalian diri yang
paling efektif. Wallahu a’lam bish-shawab!
